Teknologi Silase Picu Produktivitas Kambing
Pemberian pakan hi-jauan dengan teknologi silase pada kambing bisa meminimalisasi risiko keracunan, meningkatkan produksi susu, serta memperpendek siklus reproduksi.
Carso Abdullah, peternak kambing peranakan eta-wa (PE) di Desa Gumelar, Banyumas, Jawa Tengah, sering kali kewalahan mencari hi-jauan untuk mencukupi kebutuhan pakan lOekorkambingPE. Pasalnya, dia hanya mampu menyediakan hi-jauan untuk 6-7 ekor per hari. Karena itu, dia harus membayar orang untuk mencari hijauan-terutama pada musim kemarau-agar stok pakan kambing PE terus terjamin.
Namun, ketika stok pakan itu sudah terjamin, ternyata Carso masih cemas. Dia sering kali dibayang-bayangi rasa ketakutan saat memberikan hijauan secara langsung kepada hewan ternaknya. Sebab, tidak sedikit kasus kematian mendadak kambing PE di Desa Gumelar lantaran keracunan hijauan. Pemberian komposisi dan kualitas hijauan yang bervariasi kepada hewan ternak, menurut Budi Rusto-mo, Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Pedesaan, Universitas lenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto, sebenarnya juga berisiko menurunkan produktivitas hewan ternak. Indikatornya bisa terlihat dari tingginya tingkat mortalitas anak kambing, rendahnya produksi susu, dan panjangnya siklus reproduksi.
Tapi, semua itu hanya cerita lama bagi Carso .dan kelompok Peternak Etawa Gumelar Banyumas (Pagu-mas) di Desa Gumelar, tatkala mereka belum mengenal teknologi silase pakan komplet Silase adalah cara mengawetkan hijauan yang lebih ekonomis dan aman bagi hewan ternak. Teknologi silase pakan komplet tersebut diperkenalkan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) bersama Unsoed lewat program IPTEK di daerah (Iptekda) 2008.
Program Iptekda pada prinsipnya merupakan media transfer ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna dari UPI kepada usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di daerah. Desa Gumelar menjadi sasaran program Iptekda lantaran merupakan sentra pengembangan kambing PE di Jawa Tengah sejak dulu.”Dari jumlah penduduk 10.535 jiwa, hampir 65 persen bermata pencaharian peternak kambing PE,” ujar Kepala Desa Gumelar Tjahjo Erijanto. Namun, desa yang terletak 40 kilometer dari Purwokerto, bagian barat Kabupaten Banyumas itu, meskipun berdaya dukung agroekosistem yang baik, memiliki laju peningkatan populasi kambing yang sangat rendah.
Peningkatan populasi kambing tidak mampu mengimbangi laju penumbuhan pasar yang terus meningkat setiap tahun. Sebagai gambaran, data Direktorat Jenderal Perternakan 2006 menunjukkanlaju pertambahan populasi kambing rata-rata hanya 2,9 persen per tahun. Padahal, kebutuhan konsumsi daging kambing dalam negeri mencapai 5,6 juta ekor per tahun.
Pakan Komplet
Salah satu cara mengatasi masalah rendahnya pertumbuhan populasi kambing PE, menurut Budi Kusi.inul, adalah meningkatkan produktivitas ternak. Untuk meningkatkan efisiensi formulasi pakan kambing PE di tingkat peternak, dibuatlah .ilusi pakan komplet berbasis sumber daya lokal.Lebih detail. Budi menjelaskan teknologi //./.,- pakan komplet menerapkan metode fermentasi anaerob (tanpa oksigen) sumber hijauan dengan karbohidrat untuk memproduksi asam laktat organik. Sumber hijauan yang bisa dimanfaatkan pada musim penghujan antara lain rumput kolonjono, tebon (tanaman jagung muda), dan tayu-man (tanaman yang biasa digunakan untuk pagar).
Selain itu, bagian dari tanaman yang digunakan untuk persediaan kemarau antara lain ramban (daun mahoni, munggur, pisang, kesa-mbi, turi, lamtoro), daun ubi kayu, dan kulit ubi kayu. Sedangkan hijauan yang umumnya diberikan dalam keadaan kering antara lain jerami padi, jerami kacang tanah (rendeng), dan jerami kedelai.Pembuatan silase pakan komplet diawali dengan mencari sumber hijauan yang ada di sekitar desa. Lalu,sumber hijauan tersebut dicacah dengan mesin pemotong (chopper) dengan ukuran 5-10 sentimeter.Ukuran sumber hijauan yang terlalu kecil dapat meninggikan produksi asam laktat sehingga kurang baik bagi pencernaan kambing, sedangkan ukuran sumber hijau yang terlalu besar juga berdampak kurang baik lantaran makanan akan terlalu lama berse-mayam dalam perut kambing.
Lalu, cacahan sumber hijauan tersebut dicampur secara meratadengan bahan aditif karbohidrat dan tetes tebu. Sumber karbohidrat tersebut bisa berasal dari onggok, dedak, dan polar (limbah gandum) sebanyak 10-20 persen. Karbohidrat dan tetes tebu berfungsi sebagai penumbuh mikroba asam laktat.”Penggunaan sumber karbohidrat sebagai penumbuh mikroba asam laktat ini lebih praktis dan mudah ketimbang menggunakan mikroorganisme stater,” ujar Budi. Dalam pencampuran bahan-bahan pembuatan pakan ternak komplet tersebut juga ditambahkan garamsecukupnya.
Selanjutnya, semua bahan dimasukkan dengan cara ditekan kuat-kuat dalam wadah plastik atau tabung fermentator. Tujuannya untuk mengurangi ruang oksigen. Masih terdapatnya oksigen dalam tabung fermentator danaLmeinacu tumbuhnya jamur. Bila pakan ternak sudah terkontaminasi jamur, secara otomatis tidak bisa digunakan lagi.Oleh sebab itu, tabung fermentator harus ditutup rapat, dan proses ensilase dapat dibiarkan berlangsung sempurna. Berdasarkan hasil riset Budi, proses ensilase pakan komplet sekitar 3-4 pekan. Proses ensilase itu ditandai dengan penurunan kadar keasa-man (pH) sekitar 4 sampai 4,5. Tanda-tanda lain berhasilnya proses ensilase adalah adanya aroma segar dan manis, serta tidak tumbuh jamur.
Menurut Budi, silase pakan komplet tersebut dapat diberikan secara langsung. Namun, kambing yang belum pernah diberikan silase pakan komplet masih butuh proses adaptasi antara dua sampai tiga pekan.Bila pakan ternak akan dijadikan stok makanan kambing PE pada waktu musim kemarau, bisa disimpan dalam plastik dan dilapisi karung, kemudian diikat untuk mempertahankan kedap udara.”Berdasarkan hasil riset, silase pakan komplet ini bisa bertahan sampai enam bulan. Dengan demikian, stok pakan kambing tidak terpengaruh musim lagi,” pungkas Budi. awm/L-1