Pakan Domba

PRESPEKTIF EFISIENSI PENGGUNAAN BAHAN PAKAN LOKAL

DALAM PERBAIKAN USAHA TERNAK DOMBA OLEH PETANI MISKIN

DI DESA PAGERGUNUNG, KABUPATEN TEMANGGUNG

S. Prawirodigdo, T. Herawati, dan B.Utomo

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Tengah, Laboratorium Pakan dan Perbibitan, Jl.Soekarno-Hatta 10 A Bergas, Kabupaten Semarang 50552, Jawa Tengah

Di lain pihak, beberapa limbah tanaman berpotensi dan prospektif yang masih bersifat sebagai bahan pakan non-tradisional untuk ternak domba di Desa Pagergunung adalah kulit kopi, kulit durian dan kulit rambutan.  Ginting dan Batubara (2003) menyatakan bahwa ketiga limbah tanaman ini prospektif untuk bahan pakan kambing di Sumatra.

Seorang pengusaha pemrosesan (pengupasan kulit, selèp) kopi di desa Klepu (tetangga Desa Pagergunung) menyatakan bahwa setiap tahun dapat terkumpul kulit buah/biji (pulp and hull) 50 ton lebih.  Limbah ini sebagian dibeli oleh pengusaha pakan sapi dari luar daerah.  Müller (1980), melaporkan bahwa daya cerna bahan kering kulit kopi pada ternak domba mencapai 69.5%.  Oleh karena itu bahan ini layak intuk diintroduksikan sebagai bahan pakan domba di Desa Pagergunung.  Sedangkan informasi tentang profil dan karakter nutrien kulit durian dan kulit rambutan belum tersedia.

Bahan pakan dari limbah tanaman yang sudah bersifat tradisional untuk pakan domba adalah pucuk batang dan daun jagung, jerami kacang panjang, daun singkong, daun ubi jalar, daun dan buah papaya, dan daun/batang pisang terutama pada musim kemarau panjang.  Selain itu ditemukan bahwa petani juga memberikan daun sengon (albisia falcata) sebagai pakan domba.  Walaupun demikian data populasi tanaman pohon albisia falcata ini tidak terdata dalam monografi desa.

Hasil pengamatan visual menunjukkan bahwa di samping mengusahakan tanaman pangan, petani juga menamam tanaman pakan.  Ketika dilakukan survei ditemukan bahwa petani telah menanam rumput Gajah (Pennisetum purpureum) maupun berbagai leguminosa (Glerisidia maculata, Calliandra calothyrsus, dan Leucaena leucocephala) untuk cadangan pakan ternak domba yang dipelihara.  Para petani menjelaskan bahwa pada musim penghujan produksi tanaman pakan ini melimpah, tetapi pada musim kemarau surut drastis sekali.  Sebenarnya, produksi tanaman pakan ini dapat dikeringkan dan disimpan untuk digunakan pada musim kemarau.  Meskipun pada musim penghujan cahaya matahari terbatas, untuk daun-daun leguminosa tetap dapat dikering-anginkan, karena biasanya hanya butuh waktu 2 – 4 hari.

Suatu high light klasik yang kami pertimbangkan dalam inovasi formula pakan adalah, bahwa petani miskin tidak akan mengadopsi formula pakan menggunakan bahan yang memerlukan biaya banyak atau harus tergantung pada pasokan dari daerah lain. Maka dari itu inovasi formula pakan harus menggunakan bahan lokal dan disusun sesuai kebutuhan nutrien.  Menurut McDonald et al (1992) untuk ternak domba berbobot 20 kg dengan harapan rata-rata pertambahan bobot badan harian 150 g, memerlukan konsumsi 560 g bahan kering pakan/hari.  Kebutuhan protein tercerna pada rumen (rumen degradable protein) dan energi metabolis (EM) masing-masing adalah 57 g dan 6.8 MJ EM/kg pakan.  Sedangkan standar kebutuhan nutrien untuk induk domba bervariasi tergantung pada kondisi ternak, misalnya sedang bunting, menyusui anak tunggal atau kembar, dan pada umur laktasi tertentu.

Prospek pemenuhan kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan pemberian pakan menggunakan bahan pakan lokal sangat tinggi.  Sebagai contoh, Wahyono et al. (2002) telah berhasil memproduksi complete feed (pakan bebas rumput segar) untuk pakan ternak domba/kambing dengan mencampur berbagai limbah pertanian yang kurang dimanfaatkan.  Di samping itu, hasil-hasil penelitian pakan yang telah diinformasikan oleh para peneliti nasional dan luar negri juga tersedia, dan akan sangat berguna untuk diadopsi sebagai pedoman dalam formulasi pakan seimbang untuk ternak domba di Desa Pagergunung.

Berikut ini adalah contoh formula pakan yang disusun oleh Mathius et al. (1991) untuk ternak domba penggemukan berbobot 30 kg (Tabel 2) dan domba bunting enam minggu yang memiliki bobot 20 kg (Tabel 3).

Tabel 2.  Proporsi bahan dalam pakan ternak domba penggemukan *

Keterangan Proporsi dalam susunan pakan (g)
Jumlah Bahan kering Protein kasar TDN**
  1. 1. Kebutuhan ternak
1150 113 720
  1. 2. Bahan pakan
Rumput Gajah 3833.0 689.94 348.80 2069.82
Tepung jagung 39.3 33.83 30.29 32.65
Bungkil kelapa 123.8 106.49 26.75 105.26
Total 3996.2 830.2662 405.84 2207.73

*, Sumber : Mathius et al. (1991); **, TDN = Total Digestible Nutrients

Pada Tabel 2 tampak bahwa campuran dari bahan pakan dalam suatu susunan pakan ransuman belum dapat memenuhi kebutuhan BK.  Di lain pihak kuantitas protein kasar dan TDN  yang tedapat dalam pakan ransuman berlebihan.


Tabel 3.  Proporsi bahan dalam pakan ternak domba sedang bunting *

Keterangan Proporsi dalam susunan pakan (g)
Jumlah Bahan kering Protein kasar TDN**
1. Kebutuhan ternak 900 103.5 639
2. Bahan pakan
Rumput Gajah 1961.5 359.07 118.4 1058.9
Daun lamtoro 270.6 78.98 60.95 208.96
Tepung jagung 493.33 424.26 37.99 409.4
Ampas Tahu 45.53 44.76 27.85 36.89
Total 2570.96 907.07 245.19 1714.15

*, Sumber : Mathius et al. (1991); **, TDN = Total Digestible Nutrients

Tabel 3 menunjukkan bahwa kebutuhan bahan kering (BK) ternak domba sedang bunting sesuai dengan kandungan BK pakan, tetapi kandungan protein kasar (PK) dan TDN pakan melebihi kuantitas yang dibutuhkan.

Kedua contoh formula pakan ini memberikan gambaran bahwa bahan-bahan pakan spesifik lokasi ternyata sangat berguna untuk budidaya ternak domba.  Sejalan dengan itu, dari perpektif potensi bahan pakan spesifik lokasi yang terdapat di Desa Pagergunung dapat dijustifikasi, bahwa tentunya bahan-bahan tersebut dapat digunakan secara efisien oleh petani miskin untuk memperbaiki usaha ternak domba.  Meskipun demikian, sebaiknya formulasi pakan menggunakan dasar pertimbangan kebutuhan nutrien tercerna dan profil/karakter nutrien bahan pakan, karena formulasi yang demikian hasilnya lebih tepat.

KESIMPULAN

Kesimpulan penelitian ini adalah, bahwa formula pakan berprotein : energi seimbang merupakan teknologi inovatif yang dapat mengefisienkan penggunaan bahan lokal di Desa Paggergunung sehingga dayamanfaatnya tinggi, dan ketersediaannya juga akan lebih berkesinambungan.  Perpektif ini menjanjikan harapan bagi petani miskin dalam perbaikan usaha ternak domba.  Agar penampilan pertumbuhan atau reproduksi ternak domba lebih memuaskan, susunan pakan perlu diformulasi berdasarkan kebutuhan nutrien ternak maupun pertimbangan profil dan karakter nutrien bahan pakan lokal.

Diambil Di : SINI

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: